Bab 1: Merantau - Cerita Damar Langit - Abengkris
SIcBCNYYowU9yLaT7xeY79BwuoTOboEitKQqE4L9

Bab 1: Merantau - Cerita Damar Langit

Baca sebelumnya:

Bab 1: Merantau

Aku terlahir di keluarga yang kurang beruntung. Miskin. Tidak ada lagi kata kiasan atau perumpamaan yang lebih halus. Orang bilang anak yang lahir dari keluarga miskin maka ia juga akan tumbuh menjadi orang miskin juga. Pernyataan itu awalnya sempat menakuti ku. Seolah-olah miskin adalah sebuah kutukan. Tapi tekat ku berkata lain. Miskin adalah anugerah. Dari sana aku banyak belajar tentang kerja keras. Berusaha untuk lepas dari jerat predikat miskin yang membatasi ruang gerak segala hal. Paling utama yang orang miskin tidak punya adalah fasilitas. Tidak seperti orang kaya yang jika ingin sesuatu pasti tersedia.

Bapak Ibuku yang hanya buruh tani di sawah orang memang lah tak bisa berharap banyak dari segi keuangan. Bisa makan hari ini saja sudah sangat bersyukur. Kalau aku menginginkan mainan seperti teman-temanku miliki maka aku hanya bisa gigit jari. Paling mentok ya melongo melihat teman-temanku bermain. Pernah saat teman-temanku bermain mobil-mobilan berbahan plastik buatan cina yang sedang musim. Aku ikutan nimbrung saja sampai salah satu dari mereka berbaik hati meminjamkan nya padaku. Aku sangat senang waktu itu.

Suatu hari aku baru saja pulang sekolah. Sesampainya dirumah aku melihat Ibuku di teras sedang menampi beras menggunakan tampah. Beliau bertanya padaku.

“Kenapa sepatu nya di tenteng begitu bukannya di pakai, nanti kakimu ter pijak beling bagaimana, Le?” Katanya dalam bahasa jawa.

“Telapak nya sudah bolong mak. Dipakai sama tidak dipakai sama saja.” Jawabku sambil masuk ke dalam rumah.

Aku sempat melihat ibuku saat selesai menjawab pertanyaannya sambil berjalan. Matanya berair.

Untuk bocah seumuran kelas dua sekolah dasar saat itu aku tak tahu menahu bagaimana menilai apa yang orang lain rasakan lewat mimik wajah. Tapi sekarang aku paham. Orang tua itu. Ibuku. Dia sedang sedih mendapati nasib anaknya yang miskin. Butuh waktu beberapa hari meminta izin kepada guru ku untuk menggunakan sendal karena sepatuku sudah tidak bisa dipakai sama sekali. Butuh waktu sampai bapak ku mendapatkan upah dari hasil pekerjaannya kemarin menggarap sawah pak lurah. Baru lah aku di belikan sepatu baru. Tapi sayang, sepatu yang di belikan bapak ku ukurannya kekecilan. Tak bisa ditukar.

Aku setengah terpaksa memakai sepatu sempit itu pergi ke sekolah. Terkadang saat di dalam kelas sepatu itu aku lepas. Pernah suatu hari ditegur guru ku.

“Damar! Ini sekolah bukan warung kopi!” kata Guru matematika yang galak itu.

“Sepatu nya sempit, Bu.” Jawabku.

Teman-teman sekelas ku tertawa. Aku diam saja. Aku benci matematika. Selain pelajarannya susah, gurunya juga galak setengah mati.

Cukup lama aku bertahan menggunakan sepatu sempit itu. Sampai sol nya terkelupas. Di lem saja, kata bapak ku. Cukup lama. Sampai kenaikan kelas. Lalu aku pindah sekolah. Mengikuti kemauan kedua orang tuaku merantau untuk mengadu nasib. Aku melanjutkan kelas tiga sekolah dasar di perantauan. Kota yang asing. Aku tidak pernah mendengar namanya, Batam.

Aku tinggal di sebuah perkampungan. Aneh sekali awalnya. Tidak seperti yang aku bayangkan. Seperti kota-kota yang banyak orang bicarakan itu. Aku tinggal di rumah papan dengan tetangga yang bisa dihitung jari. Di tengah hutan! Butuh beberapa ratus meter ke jalan raya melalui jalan setapak. Listrik tidak ada. Hanya beberapa rumah yang memiliki listrik. Itu pun nyala sewaktu malam saja. Dan hari minggu. Dari pagi sampai jam dua belas siang saja. Benar. Hanya setengah hari dan nyala kembali nanti sore menjelang malam. Kira-kira hari sudah mulai gelap baru dinyalakan.

Setiap hari minggu aku gembira sekali. Menonton banyak film kartun. Crayon Shincan, Power Ranger, Ultraman, dan lain-lain. Aku dan beberapa temanku yang lain setiap minggu kompak berkumpul di rumah Wisnu untuk nonton bareng. Terkadang kami berdebat merebut kan warna Ranger kesukaan. Ketika sedang seru-seru nya, tiba-tiba TeVe mati. Rupanya sudah jam dua belas siang. Sumber listrik dari genset sudah dimatikan. Bensin nya abis katanya. Kami keluar dari rumah Wisnu dengan penuh kekecewaan. Menerka-nerka bagaimana kelanjutan kisah yang sempat terpotong tadi.

Biasanya kalau sudah begitu. Dari pada sibuk mempertanyakan apa yang akan terjadi selanjutnya, kepalang tanggung kami lanjutkan sendiri ceritanya. Kami membagi peran. Semisal tema nya adalah Power Ranger, maka akan dibagi menurut warnanya. Lalu sisanya menjadi Monster sebagai penjahat nya. Dan aku sering kebagian menjadi Monster. Aku tidak masalah dengan peran itu. Asalkan mereka mau berteman denganku saja sudah senang. Keasyikan bermain sering kali lupa waktu. Terkadang ibuku sampai datang menjemput. Sudah mau maghrib, "Cepat pulang sebelum bapak mu pulang" kata ibuku. Dengan tangannya berada di kuping ku ditarik nya lah aku pulang kerumah.

Meskipun tidak jauh beda dengan kehidupan ku di kampung, tapi aku cukup senang disini. Karena aku memiliki Wisnu, yang bersedia menjadi sahabatku tanpa melihat kekurangan yang aku miliki. Wisnu sering main kerumah. Tapi saat bapak tidak ada. Karena Wisnu takut sekali dengan bapak. Seram katanya. Memang bapak orangnya tegas. Ditambah penampilannya yang garang dengan kumis tebal, mata merah karena kurang tidur, dan berkulit gelap. Bapak beralih profesi sekarang. Yang dulunya buruh tani sekarang menjadi kuli bangunan. Sedangkan ibuku mencuci baju di beberapa rumah di komplek rumah dinas polisi.

Caturwulan pertama aku berjuang menyesuaikan diri dengan lingkungan yang baru. Bahasa indonesia ku benar-benar di uji disini. Orang yang baru kenal denganku pasti sudah bisa menebak berasal dari mana. Logat jawa kental dan terkadang keceplosan menggunakan bahasa jawa saat mengatakan sesuatu membuat teman-temanku mengernyitkan dahi mereka. Mengingat Batam adalah kota industri yang berkembang sudah pasti menjadi tujuan orang-orang daerah untuk mengadu nasib. Tidak heran teman-teman sekolahku berasal dari pelbagai suku.

Beruntung aku mendapatkan sekolah yang lumayan bagus. Sekolah negeri yang juga termasuk sekolah favorit. Aku tidak punya banyak teman baru. Orang pertama yang menjadi temanku adalah Wisnu. Karena aku sudah mengenalnya bahkan sebelum masuk ke sekolah ini. Ya. Wisnu adalah tetanggaku yang punya TeVe. Sebab itu lah mungkin bapak memasukkan aku ke sekolah yang sama dengan Wisnu agar aku punya teman yang bisa mengawasi. Awalnya Wisnu bertugas menjadi penerjemah ku. Selain dia lahir disini ia juga memiliki bahasa jawa yang bagus. Kami bersahabat. Wisnu adalah sahabat dan juga penerjemah ku. Satu lagi tugasnya, menjaga ku. Karena Wisnu adalah kakak kelas ku jadi dia mengajari ku banyak hal.

“Wis, kamu mbok jangan mengajari ku di depan Vina, aku malu.” Kataku suatu hari.

Vina adalah gadis keturunan Minang. Cinta pertama ku. Kami memang tidak pacaran. Karena aku tidak pernah menyatakan cinta. Vina orangnya cuek. Sebenarnya kami pun tidak akrab. Aku yang sering curi pandang kepadanya. Sampai pada saat pelajaran bahasa indonesia kami di beri tugas kelompok. Buk Fauziah wali kelas ku yang memilih kelompoknya. Kebetulan aku sekelompok dengan Vina, aku senang sekali.

Sejak saat itu aku mulai akrab dengan Vina. Di luar pelajaran saat jam istirahat aku sering diam-diam mengikutinya ke kantin. Vina biasanya membeli mi goreng yang di kemas dalam plastik kecil. Harganya seribu. Aku pura-pura membeli mi goreng yang sama. Di sebelah Vina aku bilang kepada Ibu kantin.

“Sekalian sama punya Vina buk de”. Aku memberikan uang dua ribu.

“Enggak usah, Mar.” Vina menolak.

“Sudah ndak apa-apa.”

Padahal uang jajan ku hanya dua ribu. Aku nekat tidak minum selesai makan mi goreng demi Vina. Aku berusaha keras mendekatinya. Aku suka dia karena selain cantik Vina juga memiliki otak yang cerdas. Meskipun kelihatannya cuek sebenarnya dia baik.

Aku berusaha lebih keras kali ini. Dengan alasan menanyakan pekerjaan rumah, aku menelepon Vina melalui WarTel. Aku mendapatkan nomor teleponnya dari biodata kelas yang aku curi diam-diam saat jam istirahat di meja guru. Aku grogi saat menelepon nya. Suara berat seorang lelaki dari seberang telepon menjawab.

“Halo?”

Aku sudah menebak pasti itu ayahnya. Jari telunjuk ku mengetuk meja WarTel seperti jarum di mesin jahit.

“Vina nya ada om?” Tanyaku ragu-ragu.

“Ada, ini siapa ya?”

Suara itu sangat jelas di telingaku seolah-olah orang itu benar-benar ada di hadapanku sekarang.

“Saya teman sekolahnya Vina, Om. Mau menanyakan PR.”

Aku menggaruk kepalaku yang tidak gatal dengan sebelah tangan.

“Tunggu sebentar, ya.”

Lalu aku mendengar orang itu memanggil Vina meskipun bibirnya tidak di depan telepon.

Begitulah strategi ku untuk selalu dekat dengan Vina. Meskipun hanya sekedar mengobrol bagiku itu sudah lebih dari cukup. Tidak pernah berniat menyatakan perasaan ku walau banyak kesempatan. Ketakutan ku lebih besar dari rasa ingin memiliki. Jika aku tanyakan padanya apakah dia mau menjadi pacar ku lalu dia menjawab tidak bagaimana? Kalau gara-gara itu kemudian pertemanan ku dengannya menjadi renggang bagaimana? Jelas aku tahu diri bahwa kami beda strata sosial. Dia anak orang berada mana mungkin mau dengan orang miskin seperti ku. Hanya ada satu alasan jika anak miskin bisa pacaran dengan orang kaya. Pasti dia rupawan. Sedangkan aku tidak. Atas dasar itu lah aku lebih nyaman menjadi teman saja. Meskipun pelajaran sekolah selalu menjadi alibi ku. Pikir ku, jika hatinya tak ku miliki maka ilmunya yang aku dapatkan. Aman dan untung.

Aku hanya murid sekolah dasar yang lugu soal cinta. Perasaan alami ku terhadap Vina adalah sekedar rasa mengagumi seorang gadis cantik yang baik dan juga pintar dalam pelajaran. Menurutku tuhan sedang bahagia ketika menciptakannya. Lahir di dalam keluarga yang bahagia pula. Maka seharusnya bahagia juga Vina menjadi dirinya sendiri. Aku juga bahagia bisa mengenalnya. Terlalu bahagia sampai lupa tadi sepulang sekolah aku dititipi surat dari buk Juli untuk orang tuaku. Uang SPP ku menunggak sudah tiga bulan.

Memang akhir-akhir ini bapak sedang mengalami kesulitan keuangan. Hasil keringat nya menjadi kuli bangunan tak di bayar. Mandor nya kabur. Di rumah juga mamak uring-uringan sebab uang belanja tidak ia dapatkan. Terpaksa untuk makan sehari-hari mamak mengutang di warung. Sedangkan bapak sedang pusing mencari uang pengganti yang kemarin tak ia dapatkan. Upah mamak mencuci baju pun masih menunggu akhir bulan baru dibayar.

Aku pulang dengan perasaan takut dan bingung. Takut menambah beban orang tuaku jika ku berikan surat panggilan itu pada mereka. Bingung bagaimana mencari jalan keluarnya. Aku membuka pintu rumah pelan-pelan. Rencana mengendap-endap ku gagal. Engsel pintu yang telah berkarat itu menjerit minta diberi pelumas. Aku ketahuan.

“Sudah pulang, Le?” Terdengar suara mamak dari dalam kamar.

“Iya, Mak.” Jawabku kemudian.

Sial! dengus ku dalam hati. Aku menghampiri beliau di dalam kamar dan mencium punggung telapak tangannya.

“Mamak enggak kerja?” Tanyaku menggunakan bahasa Indonesia.

“Ndak, Le. Perut mamak sakit.”

Wanita paruh baya itu sedang berbaring di kasurnya. Mengelus perutnya yang sudah semakin membesar. Benar. Aku akan punya adik. Aku akan punya teman bermain di rumah ini. Dan berarti semakin berat juga beban orang touaku. Aku mengurung kan niat memberi surat dari buk Juli.

“Kalau mau makan ada ayam di meja, di kasih mbak Salimah tadi.”

“Iya, Mak.”

Baca selanjutnya:
Related Posts
Abengkris
Pencandu kopi hitam panas dengan sedikit gula.

Related Posts

Posting Komentar