SIcBCNYYowU9yLaT7xeY79BwuoTOboEitKQqE4L9
Tentang

Tentang



S
elamat datang di 'semestaku' yang rumit. Hal-hal yang jarang dan tidak pernah atau mungkin belum terucap dibibirku. Sesuatu yang bersarang di kepalaku dan tak mau berdamai dengan keadaan. Zona kegelisahan batin yang mau tidak mau harus aku ungkapkan melalui kebisaanku ini. Menulis.

Awal mula

Bisa dibilang aku kurang mahir dalam bersosial. Kecenderungan suka menyendiri dan asik sendiri menciptakan dunia baru yang aku sebut 'semestaku'. Berimajinasi adalah hiburan gratis untuk sejenak melupakan realita.

Seperti pengantar sebelum tidur, aku sering 'mengkhayal' macam-macam sebagai pengganti 'nina bobo'. Mungkin karena bapakku sering mendongeng sewaktu aku masih kecil. Jadi aku mendongeng untuk diriku sendiri. Mengkhayal sebelum tidur sebagai gantinya ketika beliau tidak ada.

Lalu ketika aku tumbuh dewasa kebiasaan itu masih terus terbawa. Hingga masuklah ke era internet. Sosial media menjadi tren baru di jagat raya ini. Dunia baru tercipta. Dunia maya namanya. Sosial media pertamaku friendster kalau kau tahu. Aku membuatnya sewaktu masih duduk di bangku sekolah menengah pertama.

Kemudian bermunculan sosial media yang lain seperti twitter, facebook, instagram dan lain-lain. Disanalah segala imajinasiku termanifestasikan.

Untuk sebagian orang pandai dalam bercerita, tapi aku tidak. Public speaking-ku payah. Sebagai gantinya aku bercerita dan menuangkan apa saja yang ada dikepalaku melalui tulisan.

Sebelum sosial media mendominasi seperti sekarang, dulu aku menghabiskan waktu luang dengan membaca novel-novel yang aku pinjam dari teman perempuanku. Kebetulan teman perempuanku itu koleksi novelnya bergenre roman semua. Entah mengapa aku lebih tertarik membaca novel ketimbang buku pelajaran sekolah. Mungkin itu sebabnya aku bodoh dalam pelajaran.

Setelah aku mengenal dunia luar perlahan minat bacaku turun dengan sangat signifikan dan bahkan sama sekali hilang. Bermain dengan teman dan melakukan hal-hal yang lebih berkaitan dengan tren saat itu.

Membaca bukan lagi kegemaranku kala itu. Karena aku pikir itu tidak keren. Terlebih orang-orang disekitarku sering mengolokku jika melihat aku 'sok' kutubuku.

Akhirnya seiring berjalannya waktu aku kembali mendapatkan siapa diriku yang selama ini aku lupakan. Lelah menipu diri bahwa aku pandai bersosialisasi dan suka dengan keramaian, aku memutuskan untuk 'mengendap'. Dalam artian lebih memilih sendiri dan mengurangi aktifitas dikeramaian.

Bukannya aku antisosial, tapi aku lebih ingin mendalami dulu jatidiri yang selama ini aku cari yang ternyata selama ini aku lupakan. Dan berusaha menunjukkan pada publik bahwa apa yang aku lakukan bukan hanya sekedar sok-sokan. Setelah pencapaian itu berhasil, mungkin aku akan 'kembali'. Entahlah, aku begitu ngelantur menulis ini. Tapi semoga saja terlaksana. Semua itu butuh kerja keras untuk mewujudkan impian bukan?

Abengkris

Aku terlahir dengan nama akta kelahiran Bambang Kristianto. Lalu ketika bergabung dengan facebook pada mei 2010 aku mencari nama yang cocok untuk akunku. Aku rasa tahap ini pernah dialami oleh sebagian besar pengguna jejaring sosial milik Mark Elliot Zuckerberg dan teman-temannya ini.

Kebanyakan nama pengguna facebook kala itu mencerminkan jatidiri orang tersebut. Begitu pula denganku, karena pada saat itu aku sedang suka sekali dengan musik emo, maka aku beri nama akun facebook ku 'Abeng Emoheadbanger'. Sedangkan Abeng berasal dari nama panggilanku Bembeng. Karena aku pikir semua orang dengan nama Bambang pasti dipanggil Bembeng, lalu aku ganti menjadi Abeng agar berbeda.

Semakin lama aku mulai risih dengan nama belakang Emoheadbanger. Karena aku rasa sudah tidak relevan dengan jaman yang sudah mempergunakan sebutan 'alay' untuk hal-hal yang mereka anggap norak. Akhirnya karena tuntutan sosial itu aku ganti nama belakangku dengan 'kris' yang aku ambil dari nama belakang asliku.

Tanpa bermaksud tidak menghargai nama pemberian orangtua. Sebenarnya ini hanyalah sebuah nama panggung, dunia tempat kita hidup adalah panggung sandiwara bukan?. Terlebih dari jelek atau bagusnya sebuah nama, orangtua kita pasti menyelipkan do'a diantaranya ketika menamai kita.

Teman facebook ku bertambah banyak. Kenalan dari jejaring sosial facebook yang juga menjadi teman, rekan, dan juga gebetan dikehidupan nyata pun ada. Kemudian mereka akrab dengan nama panggilan yang aku ciptakan sendiri. Begitu pula denganku, setiap bertemu orang baru selalu memperkenalkan diri dengan nama Abengkris. Dan semua sosial media aku beri nama yang sama.

Dengan ini, maka perkenalkan, namaku Abengkris, aku akan memperkenalkan semestaku padamu melalui tulisan. Kau boleh panggil aku abeng saja. Dengan kopi, aku terjemahkan sari-pati-rasa kehidupan lewat kata-kata.