Bab 2: Amplop Putih - Cerita Damar Langit - Abengkris
SIcBCNYYowU9yLaT7xeY79BwuoTOboEitKQqE4L9

Bab 2: Amplop Putih - Cerita Damar Langit

Selalu ada malaikat di antara hari-hari buruk kita.
Baca sebelumnya:

Bab 2: Amplop Putih

Aku sedang mengerjakan pekerjaan rumah yang diberikan oleh Bu Juli. Terdengar dari arah pintu depan Bapak baru saja pulang entah dari mana. Wajahnya terlihat lesu. Sambil memijat jidatnya sendiri ia berjalan menuju kamar. Aku mendengar percakapan Mamak dan Bapak dari ruang tamu tempatku duduk. Tapi aku tidak tahu mereka tengah membahas apa.

“Itu surat apa?” Tegur Bapak yang tiba-tiba saja sudah berdiri di samping ku.

Mati aku! Ucap ku dalam hati. Bodohnya aku tidak menyimpan surat itu di tempat yang benar. Bapak melihat ujung amplop surat berwarna putih itu keluar dari dalam tas ku.

“Eee... Surat dari Bu Juli, Pak.” Jawabku gugup.

“Coba sini Bapak lihat.”

Wajahnya serius sekali penasaran dengan isi surat itu. Aku yang gemetar sambil pura-pura menulis sesuatu dan membolak-balikkan buku. Aku takut Bapak marah padaku.

Sesaat kemudian tanpa sepatah kata pun beliau meminta selembar kertas dan pulpen padaku. Sambil sesekali mengisap rokok keretek yang ada di mulutnya Bapak menulis sesuatu di kertas yang ia minta tadi.

Aku jadi bertanya-tanya kenapa Bapak tidak marah kepadaku. Surat dari Bu Juli yang seharusnya sudah ku berikan sejak sepulang sekolah tadi malah aku simpan sendiri. Aku jadi penasaran juga dengan isi surat itu.

“Ini nanti kamu kasih ke Bu Juli.” Kata Bapak sambil menyodorkan amplop surat dari Bu Juli yang isinya sudah ia ganti dengan selembar kertas yang ia tulis tadi.

Aku mengangguk.

Setelah itu ku lihat Bapak mengambil jaket nya dan pergi lagi entah ke mana. Aku melanjutkan pekerjaan rumahku yang belum selesai.

Keesokan harinya setiba di sekolah aku langsung menuju ruang guru untuk menemui Bu Juli. Ku berikan surat balasan dari Bapak kepadanya. Aku merasa seperti kurir pos. Aku tahu surat itu berisi perihal keterlambatan uang sekolahku. Tapi aku tidak tahu persis apa isi tulisannya. Meski penasaran aku tidak berani membuka amplop putih itu.

Selasa pagi yang cerah dan sedikit berawan. Hariku biasa-biasa saja. Sama seperti hari-hari lainnya. Mencuri pandang kepada Vina sambil menggambar wajahnya di halaman paling belakang buku tulisku menggunakan pulpen. Hampir di semua buku tulisku ada gambarnya. Berbagai pose dan mimik wajah. Di bawah gambarnya aku tulis: Tersayang.

Sudah berjalan lima belas menit sejak bel masuk kelas belum juga ada guru yang datang. Suasana kelas ribut sekali. Ada yang bercanda sambil kejar-kejaran, merumpi, sibuk bertukar koleksi binder, lempar-lemparan kertas yang di gumpal, saling mengejek nama bapak masing-masing, dan lain-lain. Tapi tidak dengan Vina, gadis pujaan hatiku itu tidak peduli dengan sekitarnya. Ia tampak serius sekali membaca buku pelajaran. “Manis sekali wajahnya.” Gumamku dalam hati ketika melihat wajah serius Vina membaca buku sambil sesekali memperbaiki kacamata nya yang melorot.

Seisi kelas dalam sekejap sunyi seperti kuburan ketika buk Juli memasuki ruang kelas. Andri sebagai ketua kelas cekatan memberi aba-aba agar mengucapkan salam. Aku baru ingat. Pagi ini mata pelajaran pertama adalah matematika. Pantas saja buk Juli yang datang.

“PR yang kemarin ibu berikan segera dikumpulkan.” Ucapnya dengan wajah jutek khasnya.

Semua anak-anak mengumpulkan pekerjaan rumahnya satu per satu ke meja guru, termasuk aku.

“Kamu di sini dulu.” Bu Juli menahan ku ketika giliranku mengumpulkan tugas.

“Berdiri di depan papan tulis.” Ucapnya kemudian.

“Iya, Bu’.” Jawabku.

Lalu beliau mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya. Benda yang sangat aku kenal. Amplop putih, surat yang aku berikan padanya tadi.

“Perhatian semuanya.” Seru Bu Juli kepada semua murid di dalam kelas.

Aku bingung. Kesalahan apa yang telah aku perbuat. Apakah karena halaman belakang bukuku dipenuhi coretan dan gambar-gambar Vina? Tapi kalau melihat benda yang ada di tangannya sudah pasti bukan. Amplop surat berwarna putih itu pasti permasalahannya. Astaga! Apa yang ditulis bapak. Aku benar-benar gugup saat ini.

“Semuanya dengarkan. Kemarin ibu memberikan surat kepada orang tua Damar karena SPP-nya menunggak tiga bulan. Kemudian surat tersebut dibalas oleh orang tuanya. Sekarang ibu mau Damar membacakan surat yang ditulis oleh orang tuanya kepada kalian semua.” Ucapnya kepada semua murid.

Aku menelan ludah. Tidak berani menatap guru itu, apalagi kepada wajah-wajah seisi kelas yang tertuju padaku. Aku malu sekali.

“Damar, tolong kamu bacakan dengan keras surat ini.” Tanpa menoleh Bu Juli menyodorkan amplop itu kepadaku. Senyumnya sinis sekali.

Aku keringat dingin. Dari semalam aku memang ingin sekali membaca surat ini. Tetapi tidak seperti ini caranya. Tanganku gemetaran membuka amplop surat yang sebentar lagi aku baca di hadapan seisi kelas. Di depan Vina. Sebuah surat yang berisi obrolan pribadi antara guru dan wali muridnya saja. Aku menyeka keringat di dahi ku yang sudah mulai basah. Bismillah... Ucap ku dalam hati. Kemudian aku mulai membaca dengan perasaan yang tidak karuan.

Batam, 3 Februari 2006
Yang Terhormat,
Ibu Juliana,
Di tempat.

Assalamualaikum,
Demikian surat ini dibuat sebagai tanggapan perihal uang SPP putra saya yang bernama Damar Langit yang sudah menunggak tiga bulan. Kiranya Bu Juli dapat mengerti keadaan ekonomi keluarga saya yang sedang tidak baik-baik saja. Tentunya Bu Juli tahu bagaimana rasanya menjadi orang tua yang selalu menginginkan yang terbaik untuk anaknya. Kita sama-sama memiliki anak untuk diperjuangkan. Bedanya, nasib kita tidak sama. Saya harus mati-matian mencari nafkah untuk keluarga dengan penghasilan yang jauh dari kata cukup.

Saya selaku ayahanda Damar Langit memohon dengan sangat agar Bu Juli tidak menagih tunggakan SPP tersebut secara terus-menerus kepada putra saya. Jika uangnya sudah ada pasti akan saya lunas kan secepatnya.

Waasakumsalamualaikum.
Hartono
Ayahanda Damar Langit.

Seisi kelas sunyi-senyap. Aku menunduk menahan rasa malu yang tak terbayangkan. Sesekali aku melirik ke arah teman-temanku, mereka juga tertunduk dan melirik ku sesekali juga. Vina, ia menangis sesenggukan. Entah kenapa juga aku tidak tahu. Mudah-mudahan ia masih mau berteman denganku setelah ini. Bu Juli, beliau sangat tega padaku. Mempermalukan ku kepada teman-temanku sendiri. Tanpa sadar pipi ku juga basah. Air mata yang jatuh dari sudut mataku mengalir tanpa aku suruh. Bercampur dengan keringat yang sedari tadi sudah mengalir sejak awal aku berdiri disini.

“Sudah?” Tanya Bu Juli padaku.

“Sudah, Bu.”

“Duduk sana.”

Aku mengembalikan surat itu ke meja Bu Juli dan kembali ke tempat duduk ku. Aku masih menunduk. Berpura-pura membuka buku untuk menutupi rasa malu ku.

“Nah, Ibu harap yang lain mengerti, sekolah itu penting. Bagaimanapun kondisi keuangan orang tua kalian se-bisa mungkin SPP jangan sampai menunggak. Harusnya orang tua sudah menyisihkan uangnya untuk keperluan sekolah anaknya. Jika sampai menunggak, berarti orang tua tidak bertanggung jawab dengan pendidikan anaknya. Sampai disini paham ya?” Bu Juli melempar pertanyaan di akhir kalimatnya.

“Mengerti, Bu.” Jawab semua murid termasuk aku.

“Sekarang buka buku matematika kalian halaman empat belas. Besok kita ulangan.”

Kelas kembali ke rutinitas kegiatan belajar dan mengajar seperti biasanya. Seolah-olah peristiwa tadi tidak pernah terjadi. Tapi mereka tidak tahu, hari ini akan membekas di ingatanku, selamanya.

Bu Juli belum selesai menerangkan semua materi pelajaran. Bel sudah menyuruh seluruh siswa SDN 012 ini untuk beristirahat. Semua murid berhamburan keluar kelas mereka masing-masing. Begitu pula dengan kelas ku. Teman-temanku senang sekali. Jam mata pelajaran matematika telah usai. Maka jam mengajar Bu Juli yang terkenal galak oleh seluruh siswa sekolah ini pun selesai.

“Mar, tidak istirahat?” Tanya Vina dari tempat duduknya.

“Enggak, Vin.” Jawabku.

Lalu Vina meninggalkanku seorang diri di dalam kelas dengan senyuman manisnya sebelum pergi. Begitu ramahnya gadis itu pikir ku. Sampai aku lupa bahwa hatiku sedang tidak baik-baik saja. Bahkan keluar kelas pun aku enggan.

Begitulah cerita amplop putih yang masih saja membekas di ingatanku sampai saat ini. Salah satu perlakuan yang aku dapatkan dari bangku sekolah dasar yang tidak menyenangkan. Kemiskinan begitu menjerat leher ku dengan sangat erat. Aku tidak berkutik sedikit pun dibuatnya. Hal yang bisa membuatku sedikit melupakan kenyataan hanyalah Vina. Dia lebih dari sekedar teman sekelas, tapi juga penyemangat hidupku. Setitik warna diantara gelapnya masa kecil ku.

Aku masih ingat. Keesokan harinya aku diberi kejutan. Teman-teman sekelas ku mengumpulkan uang tanpa sepengetahuanku. Mereka menyisihkan sebagian uang jajan mereka untukku. Aku sangat terharu sekali. Kata Andri, Vina yang mengusulkan penggalangan dana ini. Gadis itu. Selalu membuatku terenyuh.

Panjang umur segala hal-hal baik untuk Vina. Satu banding seribu mencari orang seperti dia. Entah dimana ia sekarang. Masih sendiri ataukah sudah beranak pinak dengan seorang laki-laki yang sangat beruntung.

Bersambung...
Cerita Damar Langit
Related Posts
Terbaru Lebih lama
Abengkris
Pencandu kopi hitam panas dengan sedikit gula.

Related Posts

Posting Komentar