SIcBCNYYowU9yLaT7xeY79BwuoTOboEitKQqE4L9
[Cerbung] Mendadak Viral - Eps1 (Jalan Ninja)

Iklan Billboard 970x250

Iklan 728x90

www.domainesia.com

[Cerbung] Mendadak Viral - Eps1 (Jalan Ninja)

Episode 1:

Jalan Ninja

Suasana di kota B cukup cerah siang ini. Kebetulan Riri, seorang wanita yang baru saja habis kontrak kerja di pabrik tempe, sedang tidak ada kegiatan alias nggak ngapa-ngapain di kosnya. Hanya berkutat dengan ponsel genggamnya saja.

Dengan sisa kuota internet yang ia punya, riri bermaksud untuk mencari lowongan kerja di grup facebook. Postingan demi postingan ia baca satu per satu namun belum juga ada yang cocok dengan kriterianya.

Kemudian ia menemukan satu unggahan yang berbeda dari yang lain di grup lowongan kerja itu. Sebuah link dengan gambar dua orang wanita yang sangat ekpresif di depan kamera. Tertulis disana: 'SINTA AND JOJO KEONG RACUN.flv'. Lalu dengan sangat penasaran riri mengeklik tautan tersebut.

Ternyata tautan itu membawanya ke sebuah laman youtube. Video itu otomatis terputar tanpa persetujuannya. Tampak dua orang wanita muda sedang duduk lesehan didepan sofa sambil bernyanyi dengan sangat enerjik.

Sebentar.. Dia tidak bernyanyi, melainkan hanya menggerakan bibirnya mengikuti lagu yang sedang diputar.
"Apa-apaan ini?" ucap riri begitu menonton video itu beberapa detik.
"hah!? Video macam ini banyak sekali yang menonton?"

"Kenapa video semacam ini dibagikan ke grup lowongan kerja? Apakah ini jenis lapangan pekerjaan baru?" Lagi-lagi riri dibuat tidak percaya dengan apa yang tengah ia saksikan.

Rupanya video itu sedang viral di jagat maya. Sampai-sampai dua gadis remaja di dalam video tersebut, Sinta dan Jojo, diundang ke stasiun televisi untuk diwawancarai pendapatnya mengenai video lipsing mereka di youtube yang sedang heboh itu.

Kehadiran Sinta dan Jojo yang terkenal lewat youtube karena video lipsing mereka menyanyikan lagu Keong Racun menjadi motivasi bagi riri. Seakan mendapatkan ilham, tiba-tiba riri mempunyai ide juga. Ia berniat untuk membuat video serupa dengan versinya sendiri. Tidak dengan lagu yang sama, riri memilih lagu Cari Jodoh milik band Wali.

Akhirnya riri memiliki kegiatan baru untuk mengisi kekosongannya. Ia asik sendiri komat-kamit menirukan lirik Cari Jodoh dan direkam menggunakan kamera handphonenya sendiri. Bahkan ia lupa mencari lowongan kerja seperti tujuan awal tadi.

"Ibu-ibu!, bapak-bapak! Siapa yang punya anak bilang aku..!" pekik riri sesekali yang tidak tahan hanya komat-kamit tanpa suara. Ia tertawa sendiri. Kemudian ia ulangi lagi, sampai dirasanya sudah pas gerakan bibirnya dengan musik.
Seperti sinta dan jojo, riri pun mengunggah video versinya ke youtube sebagai tandingan.

Hari-hari berjalan seperti biasa. Tidak ada yang berubah dengan riri semenjak unggahan video lipsingnya dua minggu lalu. Tapi lagu Cari Jodoh itu terus saja terngiang di kepala. Lagi mandi, nyuci baju, masak, sampai sambil menyapu juga menyanyikan lagu itu.

Persediaan bahan pangan dan simpanan uang pun sudah menipis. Pekerjaan belum juga ia dapatkan. Surat lamaran yang ia titipkan di pos-pos security pabrik juga belum ada panggilan.

Sore ini ia berniat pergi ke rumah santi, teman akrabnya sewaktu bekerja di pabrik tempe. Siapa tahu Santi punya info lowongan kerja dan kenalan. Sebelum pergi riri ingin mandi dulu karena seingatnya terakhir mandi kemarin siang. Dia tidak malas mandi sebenarnya. Karena semalam hujan jadi hawanya sangat dingin jika dipaksakan mandi.

Baru saja beberapa saat di dalam kamar mandi, riri merasa ada yang janggal. Setelah ia telisik lebih dalam ternyata alat perangnya ada yang kurang. Alat-alat mandi itu, riri menyebutnya dengan alat perang. Alat perang yang kurang itu adalah sampo namanya.

Setelah riri pikir-pikir akhirnya ia tetap melanjutkan sesi mandinya tanpa si sampo. Kerena kamar mandi kosnya adalah kamar mandi umum maka agak sedikit repot jika harus pergi membeli sampo dulu. Byar.. Byurr.. Riri sangat menikmati proses mandinya.


Setelah bekerja dua tahun di pabrik tempe Riri memang tidak melanjutkan kontrak meskipun si bos memintanya. Dengan alasan riri ingin mencoba hal baru diluar sana. Memang kata orang diluar sana itu kejam, tapi Riri tidak peduli. Diluar sana, di perantauan ini, ia akan membuktikan kepada orang tuanya kalau ia bisa menjadi lebih dari sekedar karyawan pabrik. Bukan berarti karyawan pabrik itu buruk, Riri hanya tidak suka dengan sistemnya. Terkekang, kerja dibawah perintah orang lain itu tidak enak kata riri.

"Hei.. Coba lihat siapa itu yang datang.." Seru Santi ketika melihat riri turun dari ojek.

Riri hanya membalas dengan senyum seraya memberi uang kepada abang ojek. Kemudian riri melambaikan tangannya ke arah santi yang sedang duduk di teras. Lalu berlari menghampiri santi dengan kedua tangan terbuka, mereka berdua berpelukan.

"Kamu apa kabar?"
"Baik.."
"Kamu?"
"Seperti yang kamu lihat, Ri."
"Ayo ngobrol dikamar aku aja." Ajak santi sambil memeluk lengan riri.

Kedekatan Riri dan Santi sudah tidak diragukan lagi. Meskipun mereka sudah tidak satu tempat kerja tapi itu tidak membuat hubungan mereka renggang.

Santi adalah salah seorang yang menyayangkan saat Riri memutuskan untuk tidak menyambung kontrak kerjanya lagi. Riri bersikukuh pada pendiriannya, ia yakin akan survive di kota B ini. Bisa dibilang itu adalah Jalan Ninja Riri, dia tidak akan pernah menarik kata-katanya kembali. Riri sangat berpegang teguh pada keyakinan.

Sebagai seorang perantau, tekatnya meninggalkan kampung halamannya dari desa K hijrah ke kota B adalah langkah besar membawa harapan orangtuanya. Setelah lepas dari kewajiban seorang anak untuk sekolah maka tahap selanjutnya adalah balas budi. Kodratnya menjadi perempuan juga membuat orangtuanya memberi banyak wejangan untuknya. Harus pandai menjaga diri, bergaul dengan lingkungan yang baik, dan jangan sampai terjerumus ke dalam hal-hal yang negatif.

"Kamu udah dapet kerja, ri?"

"Belum nih San, cariin dong."

"Ah kamu rewel. Susah kalau nyari kerjaan yang nggak diperintah-perintah. Kalau kamu artis atau wirausahawan mungkin bisa. Artis dan wirausahwan saja masih dapat perintah dari permintaan klien-kliennya." Santi yang sudah lama berteman dan bisa dibilang sahabat saja juga bingung dengan jalan pikiran dan kemauan riri.

"Nah, itu ide bagus."

"Apanya yang bagus?"

"Itu, jadi wirausahawan. Apa sebutannya?"

"Entrepreneur?"

"Entah apalah itu namanya. Sepertinya layak dicoba."

"Kalau memang itu keinginanmu berarti kamu harus menciptakan produk baru yang memiliki daya jual tinggi. kalau tidak.."

"Kalau tidak apa?" tanya Riri memotong.

"Kalau tidak ya usahamu akan mandek dan gulung tikar dong ririku sayang.." jawab Santi sambil menepuk pelan pipi riri.

Terkadang sebuah inspirasi mudah untuk dicari. Yang membuatnya hanya tetap menjadi sebatas mimpi adalah eksekusi yang menemui jalan buntu. Seperti harapan dan kemauan, jika tidak di lakukan maka tidak akan menjadi kenyataan.

Sejak memutuskan untuk tidak menyambung kontrak kerjanya Riri memang optimis akan mendapatkan jalan lain selain menjadi karyawan pabrik. Hanya saja Riri masih mencari tahu jalan lain seperti apa yang akan ia lakukan. Apalagi riri masih merahasiakan statusnya saat ini dari orangtuanya. Paling tidak bulan depan Riri harus sudah punya penghasilan untuk mengirim uang bulanan ke kampung dan membayar kosnya. Riri sudah mulai pusing dengan keadaannya saat ini.

"Ya udah san, aku pulang dulu ya."

"Hati-hati kamu, nanti kalau ada info lowongan kerja segera aku kabari." 

"Makasih san, sebenarnya aku juga bukannya tidak mau jadi karyawan pabrik, hanya saja aku trauma saat masih di pabrik tempe. Tenaga kita seperti tidak ada harganya. Padahal kita sudah bekerja maksimal."

"Iya riri, aku paham kok perasaan kamu. Nanti aku kabari ya, kamu tenang saja." 

"Idealisme mu tidak akan luntur hanya karena terpaksa bekerja dibawah perintah demi mencukupi kebutuhan."

"San,"

"Iya?"

"Aku pulang dulu." 

 "Ya sudah pulang sana to drama banget dari tadi."

"Hehehe bye.." 

Riri meninggalkan santi yang mengantarnya sampai didepan teras kos. Riri pulang menggunakan ojek lagi. Santi terus melambaikan tangannya kepada riri sampai sahabatnya itu hilang diantara tikungan.

Setibanya di kos riri melirik jam digital yang berada dilengan kirinya menunjukkan pukul 21:34. Riri melempar waist bag dan tubuhnya ke kasur. Iya tengkurap memeluk guling kesayangannya. Dirasanya terasa lelah sekali belakangan ini, bukan badannya melainkan pikirannya.

Baru saja setengah terlelap matanya, ia dikejutkan dengan notifikasi ponselnya. Dengan setengah hati ia raih ponselnya itu, ternyata itu adalah notifikasi komentar dari youtube. 'Wah ini lebih gokil sih dari pada si keong racun. Hahahha' begitulah isi komentar tersebut.

Riri jadi semakin penasaran karena diujung ikon pemberitahuan itu menunjukkan bahwa ia memiliki lebih dari seribu komentar. Bagaimana mungkin? riri hanya memiliki satu buah video saja di kanalnya, bahkan itu baru di unggahnya tadi siang.

Ia scroll komentar demi komentar dan semakin laju gulirnya. Hingga ia tertarik untuk melihat jumlah viewsnya, dan what..?!! Riri seketika duduk dan kantuknya lenyap entah kemana. Ia perhatikan lagi benar-benar apa yang dilihatnya tidak keliru.

Kemudian tanpa sadar riri berteriak:
"Aku virallll.....!!!!!" 

~ B E R S A M B U N G ~

Cerita selanjutnya:

Episode 2: "Terkejut Dua Kali"
Baca Juga
SHARE
Abengkris
"Aku akan memperkenalkan semestaku padamu melalui tulisan"

Related Posts

Berlangganan Artikel

Post a Comment

Iklan Tengah Post

Recent