SIcBCNYYowU9yLaT7xeY79BwuoTOboEitKQqE4L9

Kolaborasi Menulis dan Sebuku Bersama Sapardi Djoko Damono

"Menenun Rinai Hujan" Sapardi Djoko Damono & Para Penulis Terpilih Indonesia


 Pada pertengahan Maret 2019 Sebuku.net mengadakan Impian Sebuku Bersama Eyang Sapardi yang diikuti oleh ribuan peserta se-Indonesia. Dengan modal percaya diri aku mencoba memberanikan untuk turut terlibat dalam event yang sangat menarik ini. Bagaimana tidak, Sebuku bersama Sapardi Djoko Damono! Seorang penyair termahsyur di negeri ini. Karangan-karangannya sudah tidak asing lagi ditelinga para pecinta literasi. Sebut saja salah satunya buku kumpulan puisinya yang berjudul "Hujan Dibulan Juni".

 Iseng-iseng berhadiah, awalnya tidak berharap banyak setelah mengirimkan naskah puisiku yang berjudul "Biar Aku Saja" ke email redaksi event sebuku dan, walaaa... Beberapa minggu kemudian aku mendapatkan email balasan yang tertulis dengan huruf kapital; "SELAMAT! ANDA BERHASIL SEBUKU DENGAN EYANG SAPARDI DJOKO DAMONO!".



 Meskipun tidak mendapatkan juara, tapi ini adalah sebuah achievements bagiku. Sebelum memiliki buku sendiri, setidaknya berkolaborasi bersama penulis lain adalah suplemen untuk terus berkarya. Tidak untuk mendapat pujian dari orang lain, tapi lebih memberi semangat untuk diri sendiri saja.

 Seperti yang dikatakan dalam email diatas bahwa ini adalah sebuah prestasi. Tapi aku belum merasa ini cukup untuk membuatku bangga. Tentu saja sebelum mempunyai buku penuh dengan tulisanku sendiri.

 Sebelumnya aku juga sempat beberapa kali mengikuti event antologi diantaranya:

Masa Lalu di Depan

Masa Lalu di Depan
 Program antologi puisi yang diselenggarakan oleh Imperium Sastra kemudian menghasilkan buku yang berjudul "Masa Lalu di Depan". Ini adalah awal aku mulai mengikuti program kolaborasi menulis. 

Alone


Event kolaborasi menulis yang diselenggarakan oleh Anlitera publishing ini aku menyumbang tulisanku dalam bentuk cerpen yang berjudul "Juna dan Alita; Nada Sendu di Titik Temu". 

Kenapa menulis? 

 Karena menulis adalah sebuah hobi yang menyenangkan ketika apa yang tidak bisa diutarakan namun bisa dituliskan. Tentu saja banyak yang bertanya bagaimana menciptakan kata-kata yang puitis dengan diksi-diksi yang jarang dipergunakan dalam kehidupan sehari-hari. Jawaban dari semua pertanyaan itu sama jika kamu tanyakan kepada siapapun, perbanyaklah MEMBACA. Dengan membaca kita akan mendapatkan sudut pandang baru dari suatu gagasan atau keadaan yang sedang terjadi. Apalagi minat baca dinegara +62 ini sangat rendah. Kehadiran dunia digital seperti youtube yang menyuguhkan visual menarik lebih banyak diminati ketimbang membaca buku yang terkesan membosankan. Padahal konten serperti youtube tersebut juga dibuat dari kerangka tulisan yang kemudian divisualisasikan.

 Banyak orang malu untuk membagikan tulisannya ke publik. Sangat disayangkan padahal memliki potensi. Aku dulu juga begitu, merasa takut tulisanku dibilang jelek atau lebay. Tapi aku berpikir jika terus khawatir dengan pendapat orang lain tidak akan membuat kemajuan karena ruang berkarya terkukung dengan paradigma yang diciptakan sendiri. Justru kalau ada yang mengkritik tulisan kita itu adalah masukan untuk menjadi lebih baik lagi.

 Banyak media untuk tempat menaruh tulisan. Contohnya membuat blog seperti ini. Selain memamerkan kehidupan duniawi, media sosial juga bisa dijadikan wadah untuk melatih menulis. Selain itu ada juga alternatif lain seperti Storial dan Wattpad yang memang dibuat khusus untuk para penulis.

Baiklah, semoga tulisan ini dapat menginspirasimu. Nikmati saja prosesnya. Jangan berharap terlalu tinggi. "Just do it" lakukan saja dulu.

Sertifikat sebuku bersama eyang Sapardi
Sertifikat sebuku bersama eyang Sapardi

Related Posts
Abengkris
Seorang ambivert yang mulai berdamai dengan dirinya sendiri melalui menulis.
SHARE

Related Posts

Suka dengan tulisan Abengkris? Jangan sampai ketinggalan jika ada yang baru. Berlangganan lewat email, yah. Janji engga akan spam, deh... GRATIS!

Posting Komentar

Disponsori oleh: